Jumat, 05 Mei 2017

TUGAS MAKALAH INTENSIFIKASI, EKSTENSIFIKASI, DAN DIVERSIFIKASI PERTANIAN

KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tentang Permasalahan Intesifikasi, Ektensifikasi,Dan Diversifikasi Pertanian Berguna ini dengan baik meskipun banyak kekurangan didalamnya. Dan juga kami berterima kasih pada Novi Nurhayati SP.MP selaku Dosen mata kuliah Ilmu usaha tani yang telah memberikan tugas ini kepada kami. Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai tentang intensifikasi, ektensifikasi dan disversitifikasi pertanian. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun. Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun dari Anda demi perbaikan makalah ini di waktu yang akan datang. Pangkalan bun 08-10-2016 suhaimi DAFTAR ISI JUDUL I KATA PENGANTAR II DAFTAR ISI III BAB I PENDAHULUAN IV A. Latar Belakang 1 B. Rumusan masalah 2 C. Tujuan penelitian 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA V A. Tinjauan pustaka 1 BAB III PEMBAHASAN VI A. Cara Intensifikasi Pertanian Dalam Pasca Tani 1 B. Dampak Intensifikasi Pertanian 2 C. Peran Petani Dalam Intensifikasi Pertanian 3 D. Hambatan Dalam Disversifikasi Pangan 4 E. Upaya Percepatan Diversifikasi Pangan 5 F. Kelompok Sasaran Diversifikasi Pangan 6 G. Pengertian Ekstensifikasi Pertanian 7 H. Macam-macam Ekstensifikasi Pertanian 8 I. Dampak dari Ekstensifikasi Pertanian 9 BAB IV PENUTUP VII A. Kesimpulan 1 DAFTAR PUSTAKA VIII BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Intensifikasi pertanian Pada awal program intensifikasi pertanian dari tahun 1970 sampai 1980, untuk mengatasi masalah hama pada tanaman padi para petani menggunakan berbagai jenis dan formulasi pestisida dengan aneka bahan aktifnya. Pada saat itu pestisida diprogramkan untuk memberantas bukan untuk mengendalikan, bahkan juga untuk mencegah agar hama tidak timbul kembali. Kegiatan pemberantasan ini sudah terjadwal dengan rapi, misalnya setiap sekali dalam seminggu tanpa memperhatikan ada tidaknya serangan dan ekosistem (Wudianto, 2001). Ekstensifikasi pertanian sendiri merupakan perluasan wilayah pertanian yang sebelumnya digunakan sebagai wilayah yang dimanfaatkan oleh manusia. biasanya, sasaran yang dituju dalam melakukan langkah ekstensifikasi pertanian ini adalah ladang, hutan, pdang rumput, lahan gambut, dan lahan-lahn yang terpinggirkan. Seperti yang sudah dijelaskan di atas, perluasan wilayah pertanian ini semata-mata untuk meningkatkan hasil pertanian untuk mencukupi kebutuhan masyarakat. Jika kebuthan masyarakat sudah terpenuhi maka tindakan perluasan lahan pertanian ini tidak dianjurkan untuk dilakukan. Hal ini dikarenakan, tindakan perluasan lahan pertanian memiliki resiko merusak ekosistem asli dari alam dan juga terdesaknya penduduk asli karena banyaknya pendatang baru pada wilayah ekstensifikasi tersebut. Dalam pertanian Difersivikasi pertanian dan perkebunan difersivikasi dikatakan sebagai pergeseran sumberdaya dari satu tanaman menjadi campur tanaman, untuk mengurangi kegagalan resiko alam dan meningkatkan hasil dari tiap komoditas yang akhirnya akan meningkatkan pendapatan petani. B. Rumusan Masalah 1. Apakah Pengertian intensifikasi, ektensifikasi ,dan diversifikasi pertanian ? 2. Bagaimanakah permasalahan intensifikasi, ektensifikasi ,dan diversifikasi pertanian itu ? 3. Dampak yang dihasilkan dari intensifikasi, ektensifikasi ,dan diversifikasi pertanian ? C. Tujuan 1. Memberikan pengetahuan mengenai pengertian dari intensifikasi, ektensifikasi ,dan diversifikasi pertanian. 2. Untuk mengetahui bagaimana langkah-langkah dari penerapan intensifikasi , ekstensifikasi, dan diversifikasi pertanian tersebut. 3. Untuk mengetahui manfaat yang dihasilkan dari intensifikasi, ektensifikasi, dan diversifikasi pertanian. 4. Mengetahui dampak positif maupun negatif dari intensifikasi, ektensifikasi, dan diversifikasi pertanian. BAB II TINJAUAN PUSTAKA Intensifikasi pertanian adalah salah satu usaha untuk meningkatkan hasil pertanian dengan cara mengoptimalkan lahan pertanian yang sudah ada untuk memperoleh hasil yang optimal. Intensifikasi pertanian sangat dianjurkan untuk diterapkan agar mendapatkan produk atau hasil pertanian lebih banyak dengan kualitas yang lebih baik. Dalam intensifikasi pertanian yang biasanya diperhatikan adalahmasalah pengadaan bibit, pengolahan tanah, penanaman, pemupukan, pemberantasan hama dan penyakit, pemanenan dan kegiatan pasca panen. Mengoptimalkan lahan pertanian yang sudah ada, bisa dilakukan dengan beberapa cara. Difersivikasi adalah perluasan dari suatu produk yang diusahakan selama ini ke produk atau industri baru yang sebelumnya tidak diusahakan. Ini dilakuakan untuk meminimkan resiko, untuk menghindari akibat buruk dari fluktuasi ekonomi. Dalam pertanian dan perkebunan difersivikasi dikatakan sebagai pergeseran sumberdaya dari satu tanaman menjadi campur tanaman, untuk mengurangi kegagalan resiko alam dan meningkatkan hasil dari tiap komoditas yang akhirnya akan meningkatkan pendapatan petani. Definisi tersebut menekankan pentingnya perubahan sumberdaya bernilai rendah, yang sering direfleksikan sebagai peningkatan tingkat spesialisasi ke dalam aktifitas yang bernilai tinggi. BAB II PEMBAHASAN A. Cara Intesifikasi Petanian Dalam Panca Usaha Tani Cara yang di pakai dalam intensifikasi pertanian adalah panca usaha tani. Ada berbagai langkah untuk menerapkan intensifikasi pertanian, yaitu dengan menjalankan panca usaha tani atau lima usaha tani yang menjadi dasar dalam intensifikasi pertanian. 1. Pemilihan dan Penggunaan Bibit Unggul Sebelum mulai memanfaatkan lahan pertanian, para petani harus bisa memilih bibit unggul, karena bibit yang unggul akan menghasilkan suatu produk yang berkualitas. Contoh bibit unggul adalah IR 64, PB 4, atau Rajalele (untuk bibit padi). 2. Pengelolaan Lahan atau Tanah Pertanian Secara Tepat Setelah mendapatkan bibit unggul yang berkualitas, kemudian hal yang harus dilakukan adalah mengolah tanah agar siap untuk dipakai. 3. Pengaturan Irigasi atau Saluran Air Pengaturan pasokan air kelahan pertanian sangat penting dalam intensifikasi pertanan. Karena tanaman merupakan makhluk hidup yang sangat tergantung akan adanya air 4. Pemberian Pupuk Sesuai Aturan Walaupun pada dasarnya tanah telah menyediakan unsur hara essensial bagi tanaman, pemberian pupuk tetap harus dilakukan terutama untuk mengembalikan unsur hara yang telah diserap oleh akar tanaman. 5. Pemberantasan Organisme Pengganggu Tanaman Pemberantasan hama dan penyakit tanaman merupakan kegiatan pemeliharaan tanaman. Masalah utama yang kerap dihadapi petani adalah hama. B. Dampak Intensifikasi Pertanian Kegiatan intensifikasi pertanian ini menimbulkan dampak positif dan dampak negatif terhadap produksi dan ekologi terutama di Indonesia. Dampak positif yang didapatkan dari intensifikasi pertanian antara lain meningkatnya produksi padi dan gandum sehingga pemenuhan pangan pun (karbohidrat) ikut meningkat. Sedangkan dampak negatif yang dihasilkan antara lain : 1. Dampak dari Pengolahan Tanah Para petani mengolah tanah dengan cara membajak sawahnya dan ketika itu sawah dialiri oleh air hingga tergenang. Kelebihan air dialirkan ke saluran air menuju sungai dan terjadi pencucian unsur hara yang terbuang ke sungai. 2. Dampak dari Pemupukan Pemupukan dapat menyebabkan tanah menjadi asam (pH tanah menurun), sehinggaproduktivitas tanaman pertanian akan merosot. Unsur nitrogen yang terkandung dalam pupukjuga dapat menyebabkan terbentuknya larutan nitrit di dalam tanah yang dapat meresap ke dalam sumur penduduk yang dekat dengan lahan pertanian. Untuk mengurangi dampak negatif penggunaaan pupuk buatan perlu diselingi dengan penggunaan pupuk kandang dan pupuk hijau. 3. Dampak dari Pestisida a. Hama dan gulma menjadi resisten atau kebal b. Resurgensi atau timbulnya kembali hama tersebut c. Timbul ledakan populasi hama atau gulma d. Pencemaran lingkungan hidup e. Keracunan pada manusia C. Peran Petani Dalam Intensifikasi Pertanian Petani memiliki peran yang sangat penting dalam intensifikasi pertanian, namun terkadang para petani kurang diperhatikan oleh pemerintah. Kebijakan pemerintah kerap tidak berpihak pada petani misalnya saja harga bibit dan pupuk yang tinggi namun pendapatan petani masih tetap rendah sehingga pendapatannya tidak sebanding dengan apa yang telah mereka keluarkan. Peranan petani dalam intensifikasi pertanian sangat kuat tercermin pada pembuatan benih padi yang dibuat secara swadaya melalui bantuan penyuluhan. Pembuatan benih padi dilakukan karena tingginya harga benih yang diedarkan oleh Departemen Pertanian setempat. Dari kemampuan pembuatan benih yang mereka miliki petani lokal mampu membuat benih yang unggul sehingga mereka dapat meningkatkan pendapatan dari padi yang mereka kelola. Uang yang didapat dari hasil panen petani membelanjakan uangnya untuk membeli pupuk yang sangat mahal, hal tersebut menunjukkan bahwa petani berperan besar terhadap kecukupan di Indonesia. D. Hambatan Dalam Diversifikasi Pangan Upaya penganekaragaman atau diversifikasi konsumsi pangan walaupun sudah dicanangkan sejak lama, namun hingga saat ini masih belum berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Dari sisi kualitas, konsumsi penduduk Indonesia masih rendah, kurang beragam dan masih didominasi oleh pangan sumber karbohidrat terutama dari padi-padian. Permasalahan utama diversifikasi pangan adalah ketidakseimbangan antara pola konsumsi pangan dengan penyediaan produksi atau ketersediaan pangan di masyarakat. Produksi berbagai jenis pangan tidak dapat dihasilkan oleh semua wilayah dan tidak dapat dihasilkan pada setiap saat dibutuhkan. Sementara konsumsi dilakukan oleh semua penduduk setiap saat. E. Upaya Percepatan Diversifikasi Pangan Pada perkembangan terakhir, Departemen Pertanian mengupayakan percepatan diversifikasi pangan yang diharapkan tercapai pada tahun 2015 melalui dua tahap, yaitu Tahap I tahun 2007-2010 dan Tahap II tahun 2011-2015. Untuk kurun waktu tahun 2007-2010 kegiatan difokuskan kepada penciptaan pasar domestik untuk pangan olahan sumber karbohidrat nonberas, sayuran dan buah, serta pangan sumber protein nabati dan hewani melalui suatu kegiatan konstruksi sosial proses internalisasi diversifikasi konsumsi pangan yang dilaksanakan melalui peningkatan pengetahuan, sikap dan perilaku terhadap pentingnya diversifikasi konsumsi pangan yang disertai dengan pengembangan sisi suplai aneka ragam pangan melalui pengembangan bisnis pangan. Kurun waktu 2010-2015 difokuskan pada penguatan kampanye nasional diversifikasi konsumsi dan pendidikan gizi seimbang di sekolah dan masyarakat sejak usia dini. Terdapat empat kegiatan yang akan dilaksanakan, yaitu : 1. Kampanye nasional diversifikasi konsumsi pangan berbasis sumberdaya pangan lokal baik untuk aparat pemerintahan tingkat pusat dan daerah, individu, kelompok masyarakat maupun industri. 2. Pendidikan diversifikasi konsumsi pangan secara sistematis sejak dini. 3. Peningkatan kesadaran masyarakat untuk tidak memproduksi, menyediakan atau memperdagangkan, dan mengkonsumsi pangan yang tidak aman. 4. Fasilitasi pengembangan bisnis pangan melalui fasilitasi pengembangan aneka pangan segar, industri pangan olahan dan pangan siap saji berbasis sumberdaya lokal. Pelaksanaan diversifikasi pangan harus dilakukan secara serentak, dapat dimulai di pedesaan dengan memperhatikan perilaku rumah tangga termasuk rumah tangga petani sebagai produsen sekaligus konsumen pangan. Selain itu juga dengan memberdayakan kelembagaan lokal sebagai modal sosial dalam upaya percepatan diversifikasi pangan di pedesaan. Keragaman sumberdaya alam, keanekaragamaan hayati serta berbagai jenis makanan tradisional yang dimiliki oleh seluruh wilayah masih dapat dikembangkan untuk memenuhi diversifikasi konsumsi pangan masyarakat. Tingkat pendidikan dan perkembangan teknologi informasi serta strategi komunikasi publik dapat memberikan peluang bagi percepatan proses peningkatan kesadaran masyarakat menuju pangan yang beragam dan bergizi seimbang. Prograam-program pengentasan kemiskinan juga diharapkan mampu meningkatkan kemamupuan ekonomi masyarakat, yang pada gilirannya dapat meningkatkan kuantitas maupun kualitas konsumsi pangan. F. Kelompok Sasaran Diversifikasi Pangan 1. Kelompok masyarakat yang tergolong rawan pangan atau miskin, yaitu masyarakat yang mengkonsumsi kurang dari 70 persen dibanding kebutuhan kalori sesuai standar kebutuhan hidup sehat sebesar 2200 kkal/kap/hari. 2. Kelompok masyarakat yang tergolong makan kurang beragam, atau yang berpenghasilan menengah yaitu masyarakat yang mengkonsumsi kalori antara 70 sampai dengan 100 persen dari kebutuhan kalori, namun susunan makanannya kurang beragam, sehingga belum sesuai dengan kebutuhan gizi untuk hidup sehat. G. Pengertian Ekstensifikasi Pertanian Ekstensifikasi pertanian sendiri merupakan perluasan wilayah pertanian yang sebelumnya digunakan sebagai wilayah yang dimanfaatkan oleh manusia. biasanya, sasaran yang dituju dalam melakukan langkah ekstensifikasi pertanian ini adalah ladang, hutan, pdang rumput, lahan gambut, dan lahan-lahn yang terpinggirkan. Seperti yang sudah dijelaskan di atas, perluasan wilayah pertanian ini semata-mata untuk meningkatkan hasil pertanian untuk mencukupi kebutuhan masyarakat. Jika kebuthan masyarakat sudah terpenuhi maka tindakan perluasan lahan pertanian ini tidak dianjurkan untuk dilakukan. Hal ini dikarenakan, tindakan perluasan lahan pertanian memiliki resiko merusak ekosistem asli dari alam dan juga terdesaknya penduduk asli karena banyaknya pendatang baru pada wilayah ekstensifikasi tersebut. H. Macam-macam Ekstensifikasi Pertanian Macam-macam ekstensifikasi pertanian antara lain: • Perluasan lahan pertanian dengan pembukaan hutan baru. Ekstensifikasi pertanian dengan melakukan perluasan dan pembukaan hutan yang masih tertutup atau belum pernah dijadikan lahan pertanian, pada asarnya sama dengan tinakan manusia ketika masih hidup berpindah-pindah. Sistem nomaden atau berpindah-pindah ladang yang dilakukan masyarakat di Indonesia sejak dulu merupakan hasil dari perluasan lahan yang mandiri.Pembukaan hutan ini dapat dilakukan secara serentak maupun perseorangan. Membuka hutan baru yang lahannya masih subur diharapkan dapat meningkatkan produksi pertanian. Meskipun tidak menutup kemungkinan gagal dalam melakukan ekstensifikasi pertanian ini, namun beberapa metode peluasan lahan pertanian ini berhasil dilakukan oleh masyarakat. • Perluasan lahan pertanian dengan pembukaan lahan kering Ekstensifikasi pertanian dengan pembukaan lahan kering memerlukan penanganan lebih khusus. Lahan kering merupakan sebuah lahan yang memiliki spesifikasi tanah yang kering, kurang subur dan mudah terbawa air atau erosi. • Perluasan lahan pertanian dengan pembukaan Lahan gambut Lahan gambut merupakan lahan yang sangat potensial untuk ditanami. Lahan ini sangat subur dan berair. Lahan gambut dapat digunakan untuk meningkatkan hasil produksi tanaman. Di Indonesia, lahan gambut ini banyak terdapat di Sumatera dan Kalimantan. I. Dampak dari Ekstensifikasi Pertanian Terlepas dari tingginya permintaan akan kebutuhan pangan, ada dampak negatif yang akan ditimbulkan dari dilakukannya ekstensifikasi pertanian. Dampak dari dilakukannnya ekstensifikasi pertanian ini berimbas pada struktur alam, ekosistem alam, dan keseimbangan yang ada pada alam. Berikut adalah dampak dilakukannya ekstensifikasi lahan pertanian dalam kehidupan, di antaranya adalah sebagai berikut; • Rusaknya ekosistem pada lahan-lahan tertentu Dengan dibukanya lahan-lahan pertanian seperti pada hutan, lahan gambut, tentu saja dapat merusak ekosistem yang ada di sekitarnya. Dengan adanya kegiatan bercocok tanam dan pemukiman penduduk yang baru tentu mengganggu populasi hewan dan tumbuhan. Selain itu, hutan sebagai sumber produksi Oksigen terbesar yang sangat penting bagi manusia juga ikut hilang. • Berkurangnya habitat hewan Ekstensifikasi petanian ini dapat menyebabkan hewan yang tinggal dan hidup di alam menjadi terganggu habitatnya dan mulai tersingkir tempat hidupnya lebih jauh lagi. Tidak heran jika ada rombongan Gajah atau Harimau yang datang menyerang pertanian dan merusaknya karena mereka kelaparan dan tidak memiliki tempat tinggal lagi. BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Dampak positif yang didapatkan dari intensifikasi pertanian antara lain meningkatnya produksi sehingga kebutuhan pangan dapat terpenuhi. Dampak negatif dari intensifikasi pertanian yaitu, tanah yang mampat akibat pengolahan dengan alat berat, ledakan hama yang telah resisten terhadap pestisida, penurunan kualitas tanah akibat pemberian pupuk yang berlebihan, serta keracunan yang dialami manusia akibat dari penggunaan pestisida yang terus menerus. Dampak dari Ekstensifikasi Pertanian Terlepas dari tingginya permintaan akan kebutuhan pangan, ada dampak negatif yang akan ditimbulkan dari dilakukannya ekstensifikasi pertanian. Dampak dari dilakukannnya ekstensifikasi pertanian ini berimbas pada struktur alam, ekosistem alam, dan keseimbangan yang ada pada alam. Keragaman sumberdaya alam, keanekaragamaan hayati serta berbagai jenis makanan tradisional yang dimiliki oleh seluruh wilayah masih dapat dikembangkan untuk memenuhi diversifikasi konsumsi pangan masyarakat. Tingkat pendidikan dan perkembangan teknologi informasi serta strategi komunikasi publik dapat memberikan peluang bagi percepatan proses peningkatan kesadaran masyarakat menuju pangan yang beragam dan bergizi seimbang. Prograam-program pengentasan kemiskinan juga diharapkan mampu meningkatkan kemamupuan ekonomi masyarakat, yang pada gilirannya dapat meningkatkan kuantitas maupun kualitas konsumsi pangan. DAFTAR PUSTAKA Dwiastuti, Emi. 2013. Diversifikasi Pangan Berupa Kacang-kacangan. Online:http://emi3astuti.blogspot.com/2013/05/diversifikasi-pangan-berupakacang_12.html, diakses pada tanggal 15 September 2013) Ketahanan Pangan Bogor. 2013. Profil Kantor Ketahanan Pangan. Online:http://www.kotabogor.go.id/kantor/kantor-ketahanan-pangan, diakses pada tanggal 17 September 2013) Lastinawati, Endang. 2010. Diversifikasi Pangan dalam Mencapai Ketahanan Pangan. Online:http://agronobisunbara.files.wordpress.com/2012/11/7-endang-pangan-hal-11-18-oke.pdf, diakses pada tanggal 15 September 2013) http://bebas.vlsm.org/v12/artikel/pangan/DEPTAN/materi,pendukung/Renaksi%20DRAFT%20IV.htm

laporan tentang PKL pengendalian hama terpadu

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Praktek kerja lapangan (PKL) merupakan suatu kegiatan sistematis yang dimaksudkan untuk melakukan pengukuran terhadap suatu obyek (kegiatan/Praktek di desa sungai sintuk) berdasarkan pedoman yang ada. Melalui Praktek kerja lapangan (PKL), dapat diketahui cara yang tepat untuk mencapai tujuan yang dikehendaki, sekaligus dapat mengidentifikasi faktor-faktor kritis yang sangat menentukan keberhasilan kegiatan produksi pada tanaman cabe.
Tujuan Praktek kerja lapngan (PKL) adalah untuk mengetahui mengetahui bagaimana meningkatkan produksi tanaman cabe, disamping itu juga untuk mengetahui tingkat kesenjangan antara keadaan yang telah dicapai dengan keadaan yang dikehendaki atau seharusnya dicapai.
Salah satu syarat agar tanaman cabai dapat tumbuh dan berkembang sehingga menghasilkan buah adalah tanaman cabai harus sehat. Agar sehat tanaman harus terbebas dari gangguan hama dan penyakit tanaman. Salah satu masalah dalam peningkatan produksi dan kualitas mutu cabe adalah adanya serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) yang terjadi mulai dari pesemaian sampai pasca panen. Adanya berbagai macam jenis serangan OPT tersebut seringkali mengakibatkan pertumbuhan tanaman pare menjadi terganggu atau bahkan menggagalkan produksi tanaman cabai didesa sungai sintuk.
Untuk dapat meningkatkan pengetahuan, sikap, keterampilan petani, terhadap serangan OPT yang mengganggu pada tanaman cabai, dilakukan melalui kegiatan penelitian tentang pengendalian OPT pada tanaman cabe melalui program Praktek Kerja apangan(PKL) pengendalian hama terpadu (PHT), kegiatan ini dilaksanakan oleh saya sebagai mahasiswa universitas antakusuma . Pelaksanaan penelitian ini dilakukan pada hari sabtu tanggal 29 maret 2017 di desa sungai sintuk.
Melalui kegiatan penelitian PHT tanaman cabai ini, para petani sebagai memberikan diberi pemahaman tentang hama dan penyakit pada cabe secara langsung dilapangan, penelitian ini dilaksanakan untuk meningkatkan pengetahuan, sikap saya sebagai mahasiswa  siklus hidup dan sifat serangannya yang berkaitan erat dengan usia tanaman serta meningkatkan keterampilan dalam berusaha tani cabai secara langsung dilapangan. Hal ini akan memberikan manfaat kepada petani untuk melakukan dugaan kemungkinan serangan berikutnya, selain itu dapat dipergunakan dalam pengambilan keputusan tentang strategi pengendalian yang tepat.
Setelah materi ini disampaikan petani, maka untuk mengetahui apakah setelah melakukan peneliyian ini petani di desa sungai sintuk, dalam mengendalikan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) pada tanaman cabai.







1.2 Rumasan masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan pengendalian hama terpadu ?
2.      Bagaimana menerapkan sistem pengendalian hama terpadu secara praktek nya di lapangan pada desa sungai sintuk ?
3.      Apa saja yang disiapkan dalam pengendalian hama terpadu di desa sungai sintuk ?
4.      Bagaimana cara melakukan cara pengendalian hama terpadu yang baik di desa sungai sintuk dengan baik ?

1.3    Tujuan Praktek Kerja Lapangan
1.    Tujuan Umum
a.    Memperoleh pengalaman yang berharga dengan mengenali kegiatan-kegiatan di lapangan kerja di desa sungai sintuk secara umum.
b.    Meningkatkan pemahaman mengenai hubungan antara teori dan penerapannya secara praktek langsung dilapangan di Desa Sungai Sintuk.
c.    Untuk memperoleh keterampilan kerja dan pengalaman kerja yang praktis yakni secara langsung dapat menjumpai, merumuskan serta memecahkan permasalahan yang ada dalam kegiatan di Desa Sungai Sintuk.
2.    Tujuan Khusus
a.    Mengetahui kondisi umum Pertanian Tanaman Cabai di Desa Sungai Sintuk.
b.    Mengetahui kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan di Pertanian cabai di Desa sungai Sintuk.
1.4    Manfaat Praktek Kerja Lapangan
1.    Mempraktekkan secara langsung tata cara pengendalian hama terpadu dengan baik di Desa Sungai Sintuk.
2.      Bertukar pikiran dengan petani bagimana cara yang baik dalam pengendalian hama secara terpadu di Desa Sungai Sintuk.
3.    Mengetahui permasalahan yang ada di lapangan serta yang berhubungan dengan pengedalian hama terpadu.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1  Pengendalian Hama Terpadu (PHT) Tanaman Cabai (Capsipcum annum L.).
penelitian Lapangan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) Pada tanaman cabe merupakan metode untuk mengimplementasikan Pengendalian Hama Terpadu.  Sedangkan PHT adalah suatu cara pendekatan atau cara berpikir tentang pengendalian PHT yang didasarkan pada pertimbangan ekologi dalam rangka pengelolaan agroekosistem yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan.
Pengendalian hama terpadu (PHT) pada tanaman cabai merupakan teknik pengendalian yang memadukan seluruh taktik dan strategi untuk mengendalikan organisme penganggu pada tanaman cabai. Konsep pengendalian hama penyakit terpadu ini adalah berdasarkan agroekologi tanaman. Dalam pengembangan agribisnis sayuran, penerapan PHT masih relatif baru dan masih terbatas pada sebagian kecil komoditas. Namun, pengendalian dengan konsep PHT ini sangat dianjurkan karena lebih ramah lingkungan. sebelum mengenal langkah pengendalian hama terpadu pada tanaman cabai, baiknya kita mengenal terlebih dahulu jenis hama tanaman cabai dan penyakit tanaman cabai yang biasa menyerang.
Pelaksanaan program pengendalian hama terpadu merupakan langkah yang sangat strategis dalam kerangka tuntutan masyarakat dunia terhadap berbagai produk yang aman dikonsumsi, menjaga kelestarian lingkungan, serta pengelolaan sumberdaya alam yang berkelanjutan yang memberikan manfaat antar waktu dan antar generasi.
Salah satu pertimbangan dasar, pentingnya melakukan introduksi teknologi PHT, adalah adanya pergeseran strategi pembangunan dari pendekatan pertumbuhan, top down, dan bersifat jangka pendek (pola pembangunan konvensional) ke arah pendekatan pembangunan pemerataan, partisipatif, jangka panjang dan berkelanjutan yang disebut pola pembangunan berkelanjutan.

2.2  Syarat Tumbuh Tanaman Cabai
   Cabai merah besar dapat tumbuh pada dataran rendah maupun dataran tinggi hingga mencapai ketinggian 1400 mdpl. Untuk pertumbuhan yang optimum, cabai merah besar lebih cocok dibudidayakan pada daratan rendah (Supriyanto 2011). Tanah yang baik untuk budidaya cabai merah besar adalah tanah bertekstur gembur/remah, mengandung bahan organik sekitar 2% dan tingkat keasaman tanah (pH) berkisar antara 5.5-6.8. Hujan relatif sepanjang tahun dengan curah hujan 2000-3000 mm/tahun. Suhu optimum untuk pertumbuhan vegetatif dan generatif adalah sekitar 15°C-20°C .
2.3  Organisme Penggangu Tanaman (OPT)
          Berdasarkan peraturan menteri pertanian no 46/Permentan/OT.140/10/2009 yang dimaksud  dengan  organisme  penggangu  tanaman  adalah  semua  organisme  yang  dapat merusak, mengganggu kehidupan atau menyebabkan kematian pada tanaman. Sedangkan menurut  Samsudin  (2009),  Organisme  pengganggu  tanaman,  terdiri  atahama,  penyakit tanaman  dan  gulma.  Kendala  yang sering  dihadapi  dalam  produksi tanaman  cabai  adalah ganggunan  hama  dan  penyakit  (Herlinda et al  2007).  Berdasarkan  data  dari  Piay (2010), berikut ini dijelaskan jenis hama dan penyakit utama cabai merah besar dan cara pengendaliannya.
2.4  Macam-Macam Pengendalian Hama Terpadu
a.    Penggunaan varietas tahan
Penggunaan varietas tahan adalah salah satu upaya pertama dalam mencgah kerusakan yang ditimbulkan OPT. Beberapa varietas tahan yang di anjurkan untuk memperoleh produksi hasil yang optimal.
b.    Pengolahan tanah
Pengolahan tanah yang baik pada tanaman cabai adalah tanah dibajak hingga gembur kemudian ditambahkan pupuk kandang. Pengolahan tanah selain berfungsi untuk menggemburkan tanah, juga nerfungsi untuk mengurangi sumber inokulum patogen terbawa tanah (soil borne desease) ketika tanah dibalik, patogen yang berada di bawah tanah akan terpapar sinar matahari dan akan mati. Selain itu, kondisi tanah yang gembur cocok untuk perkembangbiakan mikroba menguntungkan yang dapat melawan patogen tanah.
c.    Pengapuran
Pengapuran dilakukan apabila kondisi tanah masam. pH yang sesuai untuk perkembangan tanman cabai adalah 60-6,5. Apabila tanah masam, maka cendawan penyebab layu fusarium dan penyebab rebah kecambah seperti Rhizoctonia dan Phytium sp akan berkembang baik.
d.   Perlakuan Benih
Benih cabai di rendam dengan air hangat dengan suhu 30-40oC selama 10 menit. Hal ini bertujuan untuk mengurangi atau mematikan patogen yang terbawa benih. Pada perlakuan lain bisa juga mencampur benih dengan fungisida yang berbahak aktif propined 70%.
e.    Penggunaan Mulsa
penggunaan mulsa selain dapat mengendalikan gulma,juga berguna untuk mengendalikan OPT salah satunya kutu daun. Warna perak pada mulsa akan memantulkan cahaya yang tidak di sukai oleh hama hama yang tinggal di bawh daun. Selain MPHP, dapat juga menggunakan mulsa organik, salah satunya dari jerami padi.
f.     Penggunaan Pestisida
Pestisida digunakan sebagai langkah terakhir apabila semua aspek pengendalian sudah dilakukan. Penggunaan pestisida hendaknya menggunakan prinsip tepat dosis, tepat jenis, tepat jumlah, tepat waktu dan tepat harga. Gunakanlah pestisida dengan bijak agar tidak berdampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan manusia.
2.5    Hama Yang Sering Menyerang Tanaman Cabe Dan Cara Pengendalian Secara Terpadu.
a.    Thrips ( Thrips parvispinus Karny )
Hama ini menuerang tanaman dengan menghisap cairan daun permukaan bawah daun( terutama daun muda ). Serangan ini ditandai adanya bercak keperakan, daun berubah menjadi coklat, mengkeriting atau keriput dan akhirnya mati. Pengendalian hama ini mengunakan kenikir kuning, mengunakan mulsa perak, memotong bagian tanaman yang terserang, mengunakan perangkap yang terbuat dari plastik dan memanfaatkan musuh alami seperti Coccinellidae, tungau, predator larva Chysopidae, kepik Anthocoridae dan patogen Entomophtora sp. Serta mengunakan pestisida apabila populasi hama atau kersusakan tanaman mencapai ambang pengendalian.
b.    Lalat Buah ( Bactrocera sp )
Lalat buah menyebabkan kerusakan pada buah cabi yang masih mudah maupun sudah matang. Buah ini jika terserang akan busuk dan kemudian jatuh ketanah. Gejala serangan ditandai titik hitam pada pangkal buah, ini muncul karena aktivitas lalat buah dewasa yang akan memasukan telurnya pada buah cabai. Pengendalian hama ini melakukan pemusnahan buah yang diserang, pembungkusan buah, penggunaan perangkap atraktan metil euganol, rotasi tanaman dan memanfaatkan musuh alami diantarnya Parasitoid larva dan pupa, predator semut, laba-laba, kumbang dan cecupet.
c.    kutu tebul ( Bemisia tabaci )
Serangan pada daun berupa bercak nektrotik, disebabkan oleh rusaknya sel-sel dan jaringan daun akibat serangan nimfa dan serangga dewasa. Saat populasi tinggi, serangan kutu kebul dapat menghambat pertumbuhan tanaman cabai. Pengendalian hama ini dengan memanfaatkan musuh alami seperti predator, parasitoid dan patogen serangga. Kemudian juga bisa melakukan dengan memasang perangkap kuning, sanitasi lingkungan, tumpang sari antara tanaman cabai dengan tagetes ( tanaman kentang dan mentimun) dan mengunakan pestisida seperti AmitrazFenoxycarb, Imidacloprid dan lain-lain.
d.   Kutu daun perseik ( Myzus persicae )
Kutu daun ini mengisap cairan permukaan daun muda dan bagian tanaman yang masih mudah. Daun terserang akan tampak bercak-bercak dan membuat daun menjadi keriting. Populasi hama ini meningkat pada musim kemarau, sebaliknya pada musim kemarau populasi akan turu. Pengendalian hama ini dapat dilakukan dengan penyemprotan insektisida, jika populasi tinggi ( ambang batas), lebih dari 50 setiap tanaman muda, tanaman pindahan dan hampir panen. Pengendalian menggunakan musuh alami berupa Diaretiella rapae atau di kenal sebagai predator seperti kumbang, laba-laba, larva dari syrphid, dab belalang sembah.
e.    Kutu daun ( Aphididae )
Kutu daun ini menyerang permukaan daun, serangan ini ditandai dengan daun mengkerut, mengkeriting dan melingkar, menyebabkan pertumbuhan tanaman terhambat dan tanaman menjadi kerdil. Pengendalian hama ini mengunakan musuh alami berupa parasitoid Aphelinus gossype ( timberlake), Lysiphlebus testaceipes ( cresson ) dan cendawan entomopatogen Neozygites fresenii.







BAB III
METODE PENELITIAN (PKL)
3.1     Waktu dan Tempat Praktek Kerja Lapangan
Praktek kerja lapangan dilaksanakan di Desa Sungai Sintuk Kecamatan Kumai Kabupaten Kotawaringin Barat. Kunjungan kegiatan praktek kerja lapangan ini dilaksanakan pada tanggal 27 Juni sampai 15 Juli 2017.
Alasan dipilihnya lokasi ini dengan pertimbangan bahwa pertanian Desa Sungai Sintuk  merupakan salah satu usaha pertanian tanaman cabai yang memiliki sumber daya yang cukup baik, baik segi permodalan, sumber daya manusia serta pengelolaan usahanya.
Tabel 1 Jadwal rencana kegiatan PKL di Desa Sungai Sintuk

No
Rencana Kegiatan
Bulan
Juni
Juli
1
2
3
4
1
2
3
4
1
Penyusunan Proposal








2
Konsultasi Dosen Pembimbing








3
Pengiriman Surat








4
Pelaksanaan PKL








5
Penyusunan Laporan








6
Evaluasi & Revisi Hasil Laporan









3.2         Materi dan Metode
1.    Materi
Kegiatan dalam pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan ini adalah sebagai berikut :
a.    mendefinisikan dan menganalisa permasalahan yang dihadapi. Dalam praktek kerja langan (PKL) ini permasahan yang dihadapi mengenai pengendalian hama dan penyakit cabai merah. Harapan dari hasil tahap ini adalah diperoleh pengetahuan  terkait  pengendalian  hama  dan  penyakit  cabai  merah  yang berbasis pertanian.
b.    sumber  pengetahuan  dilakukan  berdasarkan  dua  jenipengetahuan, yaitu pengetahuan tacit dan eksplisit. Pengetahuan eksplisit diperoleh melalui studi literatur yang bersumber dari buku, jurnal dan artikel yang berkaitan dengan pengetahuan seputar hama dan  penyakit cabamerah. Sedangkan, jenis pengetahuan tacit  diperoleh  melalui konsultaslangsung  dengan  petani di lapangan secara praktek.
c.    Akuisisi pengetahuan merupakan tahap pengumpulan pengetahuan dari sumber pengetahuan yang telah ditentukan pada tahap sebelumnya. Proses akuisisi pengetahuan dari pakar menggunakan metode manual wawancara dengan petani di Desa Sungai SintukJenis wawancara  yang digunakan berupa wawancara terstruktur dan tidak terstruktur.
1.        Metode
Pelaksanaan kegiatan PKL ini di lakukan dengan pengamatan terhadap cara pengendalian hama terpadu pada tanaman cabai. terutam dala proses identifikasi serangan hama dan penyakit. Metode pengendalian hama terpadu (PHT) digunakan untuk merepresentasikan hubungan pengetahuan identifikasi serangan OPT, pengetahuan tentang serangan OPT.
3.3. Cara Pengambilan Data
Cara pengambilan data yang digunakan untuk memperoleh data yang diperlukan adalah:
1.    Pengamatan (Observasi)
Pengamatan dilakukan secara langsung di Desa Sungai Sintuk terhadap kegiatan yang berhubungan dengan pelakasanaan praktek kerja lapangan guna untuk memperoleh informasi dan pengalaman langsung.
2.    Wawancara
Wawancara dilakukan dengan tanya jawab secara langsung dengan responden di lapangan.
3.    Praktek Kerja Lapangan (PKL)
Kegiatan Praktek Kerja Lapangan  ini merupakan keikutsertaan mahasiswa dalam pelaksanaan aktivitas Petani sehingga mahasiswa memperoleh pengalaman kerja secara langsung dari kegiatan tersebut.
4.    Studi Pustaka
Studi pustaka dilakukan dengan mencari informasi pendukung yang berkaitan dengan kegiatan perusahaan dengan cara memanfaatkan data pustaka yang tersedia misalnya buku, jurnal dan majalah ilmiah.
3.4  Sumber Data
Sumber data yang diperoleh berdasarkan sifat data yang dikumpulkan ada dua jenis data yaitu :
1.    Data primer adalah data yang diperoleh melalui wawancara secara langsung dari responden seperti petani tanaman cabai di Desa Sungai Sintuk.
2.    Data sekunder adalah data yang diperoleh secara tidak langsung dari sumber. Dalam kegiatan Praktek Kerja Lapangan ini yang menjadi data sekunder adalah data yang diambil dari buku, catatan yang diperoleh selama berada di perusahaan dan jurnal yang berhubungan dengan kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL).
3.5 Pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan (PKL)
Tabel 2 Pelaksanaan Praktek kerja Lapangan (PKL)
Minggu-ke
Kegiatan
I
Teknik pengendalian hama terpadu di Desa Sungai Sintuk.
II
Metode metode pengendalian hama terpadu.
III
Jadwal pengendalian hama.
IV
Pelaksanaan pengendalian dan
mengidentifikasi gejala serangan.






DBAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Praktek kerja lapangan (PKL) merupakan suatu kegiatan sistematis yang dimaksudkan untuk melakukan pengukuran terhadap suatu obyek (kegiatan/Praktek di desa sungai sintuk) berdasarkan pedoman yang ada. Melalui Praktek kerja lapangan (PKL), dapat diketahui cara yang tepat untuk mencapai tujuan yang dikehendaki, sekaligus dapat mengidentifikasi faktor-faktor kritis yang sangat menentukan keberhasilan kegiatan produksi pada tanaman cabe.
Tujuan Praktek kerja lapngan (PKL) adalah untuk mengetahui mengetahui bagaimana meningkatkan produksi tanaman cabe, disamping itu juga untuk mengetahui tingkat kesenjangan antara keadaan yang telah dicapai dengan keadaan yang dikehendaki atau seharusnya dicapai.
Salah satu syarat agar tanaman cabai dapat tumbuh dan berkembang sehingga menghasilkan buah adalah tanaman cabai harus sehat. Agar sehat tanaman harus terbebas dari gangguan hama dan penyakit tanaman. Salah satu masalah dalam peningkatan produksi dan kualitas mutu cabe adalah adanya serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) yang terjadi mulai dari pesemaian sampai pasca panen. Adanya berbagai macam jenis serangan OPT tersebut seringkali mengakibatkan pertumbuhan tanaman pare menjadi terganggu atau bahkan menggagalkan produksi tanaman cabai didesa sungai sintuk.
Untuk dapat meningkatkan pengetahuan, sikap, keterampilan petani, terhadap serangan OPT yang mengganggu pada tanaman cabai, dilakukan melalui kegiatan penelitian tentang pengendalian OPT pada tanaman cabe melalui program Praktek Kerja apangan(PKL) pengendalian hama terpadu (PHT), kegiatan ini dilaksanakan oleh saya sebagai mahasiswa universitas antakusuma . Pelaksanaan penelitian ini dilakukan pada hari sabtu tanggal 29 maret 2017 di desa sungai sintuk.
Melalui kegiatan penelitian PHT tanaman cabai ini, para petani sebagai memberikan diberi pemahaman tentang hama dan penyakit pada cabe secara langsung dilapangan, penelitian ini dilaksanakan untuk meningkatkan pengetahuan, sikap saya sebagai mahasiswa  siklus hidup dan sifat serangannya yang berkaitan erat dengan usia tanaman serta meningkatkan keterampilan dalam berusaha tani cabai secara langsung dilapangan. Hal ini akan memberikan manfaat kepada petani untuk melakukan dugaan kemungkinan serangan berikutnya, selain itu dapat dipergunakan dalam pengambilan keputusan tentang strategi pengendalian yang tepat.
Setelah materi ini disampaikan petani, maka untuk mengetahui apakah setelah melakukan peneliyian ini petani di desa sungai sintuk, dalam mengendalikan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) pada tanaman cabai.







1.2 Rumasan masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan pengendalian hama terpadu ?
2.      Bagaimana menerapkan sistem pengendalian hama terpadu secara praktek nya di lapangan pada desa sungai sintuk ?
3.      Apa saja yang disiapkan dalam pengendalian hama terpadu di desa sungai sintuk ?
4.      Bagaimana cara melakukan cara pengendalian hama terpadu yang baik di desa sungai sintuk dengan baik ?

1.3    Tujuan Praktek Kerja Lapangan
1.    Tujuan Umum
a.    Memperoleh pengalaman yang berharga dengan mengenali kegiatan-kegiatan di lapangan kerja di desa sungai sintuk secara umum.
b.    Meningkatkan pemahaman mengenai hubungan antara teori dan penerapannya secara praktek langsung dilapangan di Desa Sungai Sintuk.
c.    Untuk memperoleh keterampilan kerja dan pengalaman kerja yang praktis yakni secara langsung dapat menjumpai, merumuskan serta memecahkan permasalahan yang ada dalam kegiatan di Desa Sungai Sintuk.
2.    Tujuan Khusus
a.    Mengetahui kondisi umum Pertanian Tanaman Cabai di Desa Sungai Sintuk.
b.    Mengetahui kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan di Pertanian cabai di Desa sungai Sintuk.
1.4    Manfaat Praktek Kerja Lapangan
1.    Mempraktekkan secara langsung tata cara pengendalian hama terpadu dengan baik di Desa Sungai Sintuk.
2.      Bertukar pikiran dengan petani bagimana cara yang baik dalam pengendalian hama secara terpadu di Desa Sungai Sintuk.
3.    Mengetahui permasalahan yang ada di lapangan serta yang berhubungan dengan pengedalian hama terpadu.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1  Pengendalian Hama Terpadu (PHT) Tanaman Cabai (Capsipcum annum L.).
penelitian Lapangan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) Pada tanaman cabe merupakan metode untuk mengimplementasikan Pengendalian Hama Terpadu.  Sedangkan PHT adalah suatu cara pendekatan atau cara berpikir tentang pengendalian PHT yang didasarkan pada pertimbangan ekologi dalam rangka pengelolaan agroekosistem yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan.
Pengendalian hama terpadu (PHT) pada tanaman cabai merupakan teknik pengendalian yang memadukan seluruh taktik dan strategi untuk mengendalikan organisme penganggu pada tanaman cabai. Konsep pengendalian hama penyakit terpadu ini adalah berdasarkan agroekologi tanaman. Dalam pengembangan agribisnis sayuran, penerapan PHT masih relatif baru dan masih terbatas pada sebagian kecil komoditas. Namun, pengendalian dengan konsep PHT ini sangat dianjurkan karena lebih ramah lingkungan. sebelum mengenal langkah pengendalian hama terpadu pada tanaman cabai, baiknya kita mengenal terlebih dahulu jenis hama tanaman cabai dan penyakit tanaman cabai yang biasa menyerang.
Pelaksanaan program pengendalian hama terpadu merupakan langkah yang sangat strategis dalam kerangka tuntutan masyarakat dunia terhadap berbagai produk yang aman dikonsumsi, menjaga kelestarian lingkungan, serta pengelolaan sumberdaya alam yang berkelanjutan yang memberikan manfaat antar waktu dan antar generasi.
Salah satu pertimbangan dasar, pentingnya melakukan introduksi teknologi PHT, adalah adanya pergeseran strategi pembangunan dari pendekatan pertumbuhan, top down, dan bersifat jangka pendek (pola pembangunan konvensional) ke arah pendekatan pembangunan pemerataan, partisipatif, jangka panjang dan berkelanjutan yang disebut pola pembangunan berkelanjutan.

2.2  Syarat Tumbuh Tanaman Cabai
   Cabai merah besar dapat tumbuh pada dataran rendah maupun dataran tinggi hingga mencapai ketinggian 1400 mdpl. Untuk pertumbuhan yang optimum, cabai merah besar lebih cocok dibudidayakan pada daratan rendah (Supriyanto 2011). Tanah yang baik untuk budidaya cabai merah besar adalah tanah bertekstur gembur/remah, mengandung bahan organik sekitar 2% dan tingkat keasaman tanah (pH) berkisar antara 5.5-6.8. Hujan relatif sepanjang tahun dengan curah hujan 2000-3000 mm/tahun. Suhu optimum untuk pertumbuhan vegetatif dan generatif adalah sekitar 15°C-20°C .
2.3  Organisme Penggangu Tanaman (OPT)
          Berdasarkan peraturan menteri pertanian no 46/Permentan/OT.140/10/2009 yang dimaksud  dengan  organisme  penggangu  tanaman  adalah  semua  organisme  yang  dapat merusak, mengganggu kehidupan atau menyebabkan kematian pada tanaman. Sedangkan menurut  Samsudin  (2009),  Organisme  pengganggu  tanaman,  terdiri  atahama,  penyakit tanaman  dan  gulma.  Kendala  yang sering  dihadapi  dalam  produksi tanaman  cabai  adalah ganggunan  hama  dan  penyakit  (Herlinda et al  2007).  Berdasarkan  data  dari  Piay (2010), berikut ini dijelaskan jenis hama dan penyakit utama cabai merah besar dan cara pengendaliannya.
2.4  Macam-Macam Pengendalian Hama Terpadu
a.    Penggunaan varietas tahan
Penggunaan varietas tahan adalah salah satu upaya pertama dalam mencgah kerusakan yang ditimbulkan OPT. Beberapa varietas tahan yang di anjurkan untuk memperoleh produksi hasil yang optimal.
b.    Pengolahan tanah
Pengolahan tanah yang baik pada tanaman cabai adalah tanah dibajak hingga gembur kemudian ditambahkan pupuk kandang. Pengolahan tanah selain berfungsi untuk menggemburkan tanah, juga nerfungsi untuk mengurangi sumber inokulum patogen terbawa tanah (soil borne desease) ketika tanah dibalik, patogen yang berada di bawah tanah akan terpapar sinar matahari dan akan mati. Selain itu, kondisi tanah yang gembur cocok untuk perkembangbiakan mikroba menguntungkan yang dapat melawan patogen tanah.
c.    Pengapuran
Pengapuran dilakukan apabila kondisi tanah masam. pH yang sesuai untuk perkembangan tanman cabai adalah 60-6,5. Apabila tanah masam, maka cendawan penyebab layu fusarium dan penyebab rebah kecambah seperti Rhizoctonia dan Phytium sp akan berkembang baik.
d.   Perlakuan Benih
Benih cabai di rendam dengan air hangat dengan suhu 30-40oC selama 10 menit. Hal ini bertujuan untuk mengurangi atau mematikan patogen yang terbawa benih. Pada perlakuan lain bisa juga mencampur benih dengan fungisida yang berbahak aktif propined 70%.
e.    Penggunaan Mulsa
penggunaan mulsa selain dapat mengendalikan gulma,juga berguna untuk mengendalikan OPT salah satunya kutu daun. Warna perak pada mulsa akan memantulkan cahaya yang tidak di sukai oleh hama hama yang tinggal di bawh daun. Selain MPHP, dapat juga menggunakan mulsa organik, salah satunya dari jerami padi.
f.     Penggunaan Pestisida
Pestisida digunakan sebagai langkah terakhir apabila semua aspek pengendalian sudah dilakukan. Penggunaan pestisida hendaknya menggunakan prinsip tepat dosis, tepat jenis, tepat jumlah, tepat waktu dan tepat harga. Gunakanlah pestisida dengan bijak agar tidak berdampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan manusia.
2.5    Hama Yang Sering Menyerang Tanaman Cabe Dan Cara Pengendalian Secara Terpadu.
a.    Thrips ( Thrips parvispinus Karny )
Hama ini menuerang tanaman dengan menghisap cairan daun permukaan bawah daun( terutama daun muda ). Serangan ini ditandai adanya bercak keperakan, daun berubah menjadi coklat, mengkeriting atau keriput dan akhirnya mati. Pengendalian hama ini mengunakan kenikir kuning, mengunakan mulsa perak, memotong bagian tanaman yang terserang, mengunakan perangkap yang terbuat dari plastik dan memanfaatkan musuh alami seperti Coccinellidae, tungau, predator larva Chysopidae, kepik Anthocoridae dan patogen Entomophtora sp. Serta mengunakan pestisida apabila populasi hama atau kersusakan tanaman mencapai ambang pengendalian.
b.    Lalat Buah ( Bactrocera sp )
Lalat buah menyebabkan kerusakan pada buah cabi yang masih mudah maupun sudah matang. Buah ini jika terserang akan busuk dan kemudian jatuh ketanah. Gejala serangan ditandai titik hitam pada pangkal buah, ini muncul karena aktivitas lalat buah dewasa yang akan memasukan telurnya pada buah cabai. Pengendalian hama ini melakukan pemusnahan buah yang diserang, pembungkusan buah, penggunaan perangkap atraktan metil euganol, rotasi tanaman dan memanfaatkan musuh alami diantarnya Parasitoid larva dan pupa, predator semut, laba-laba, kumbang dan cecupet.
c.    kutu tebul ( Bemisia tabaci )
Serangan pada daun berupa bercak nektrotik, disebabkan oleh rusaknya sel-sel dan jaringan daun akibat serangan nimfa dan serangga dewasa. Saat populasi tinggi, serangan kutu kebul dapat menghambat pertumbuhan tanaman cabai. Pengendalian hama ini dengan memanfaatkan musuh alami seperti predator, parasitoid dan patogen serangga. Kemudian juga bisa melakukan dengan memasang perangkap kuning, sanitasi lingkungan, tumpang sari antara tanaman cabai dengan tagetes ( tanaman kentang dan mentimun) dan mengunakan pestisida seperti AmitrazFenoxycarb, Imidacloprid dan lain-lain.
d.   Kutu daun perseik ( Myzus persicae )
Kutu daun ini mengisap cairan permukaan daun muda dan bagian tanaman yang masih mudah. Daun terserang akan tampak bercak-bercak dan membuat daun menjadi keriting. Populasi hama ini meningkat pada musim kemarau, sebaliknya pada musim kemarau populasi akan turu. Pengendalian hama ini dapat dilakukan dengan penyemprotan insektisida, jika populasi tinggi ( ambang batas), lebih dari 50 setiap tanaman muda, tanaman pindahan dan hampir panen. Pengendalian menggunakan musuh alami berupa Diaretiella rapae atau di kenal sebagai predator seperti kumbang, laba-laba, larva dari syrphid, dab belalang sembah.
e.    Kutu daun ( Aphididae )
Kutu daun ini menyerang permukaan daun, serangan ini ditandai dengan daun mengkerut, mengkeriting dan melingkar, menyebabkan pertumbuhan tanaman terhambat dan tanaman menjadi kerdil. Pengendalian hama ini mengunakan musuh alami berupa parasitoid Aphelinus gossype ( timberlake), Lysiphlebus testaceipes ( cresson ) dan cendawan entomopatogen Neozygites fresenii.







BAB III
METODE PENELITIAN (PKL)
3.1     Waktu dan Tempat Praktek Kerja Lapangan
Praktek kerja lapangan dilaksanakan di Desa Sungai Sintuk Kecamatan Kumai Kabupaten Kotawaringin Barat. Kunjungan kegiatan praktek kerja lapangan ini dilaksanakan pada tanggal 27 Juni sampai 15 Juli 2017.
Alasan dipilihnya lokasi ini dengan pertimbangan bahwa pertanian Desa Sungai Sintuk  merupakan salah satu usaha pertanian tanaman cabai yang memiliki sumber daya yang cukup baik, baik segi permodalan, sumber daya manusia serta pengelolaan usahanya.
Tabel 1 Jadwal rencana kegiatan PKL di Desa Sungai Sintuk

No
Rencana Kegiatan
Bulan
Juni
Juli
1
2
3
4
1
2
3
4
1
Penyusunan Proposal








2
Konsultasi Dosen Pembimbing








3
Pengiriman Surat








4
Pelaksanaan PKL








5
Penyusunan Laporan








6
Evaluasi & Revisi Hasil Laporan









3.2         Materi dan Metode
1.    Materi
Kegiatan dalam pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan ini adalah sebagai berikut :
a.    mendefinisikan dan menganalisa permasalahan yang dihadapi. Dalam praktek kerja langan (PKL) ini permasahan yang dihadapi mengenai pengendalian hama dan penyakit cabai merah. Harapan dari hasil tahap ini adalah diperoleh pengetahuan  terkait  pengendalian  hama  dan  penyakit  cabai  merah  yang berbasis pertanian.
b.    sumber  pengetahuan  dilakukan  berdasarkan  dua  jenipengetahuan, yaitu pengetahuan tacit dan eksplisit. Pengetahuan eksplisit diperoleh melalui studi literatur yang bersumber dari buku, jurnal dan artikel yang berkaitan dengan pengetahuan seputar hama dan  penyakit cabamerah. Sedangkan, jenis pengetahuan tacit  diperoleh  melalui konsultaslangsung  dengan  petani di lapangan secara praktek.
c.    Akuisisi pengetahuan merupakan tahap pengumpulan pengetahuan dari sumber pengetahuan yang telah ditentukan pada tahap sebelumnya. Proses akuisisi pengetahuan dari pakar menggunakan metode manual wawancara dengan petani di Desa Sungai SintukJenis wawancara  yang digunakan berupa wawancara terstruktur dan tidak terstruktur.
1.        Metode
Pelaksanaan kegiatan PKL ini di lakukan dengan pengamatan terhadap cara pengendalian hama terpadu pada tanaman cabai. terutam dala proses identifikasi serangan hama dan penyakit. Metode pengendalian hama terpadu (PHT) digunakan untuk merepresentasikan hubungan pengetahuan identifikasi serangan OPT, pengetahuan tentang serangan OPT.
3.3. Cara Pengambilan Data
Cara pengambilan data yang digunakan untuk memperoleh data yang diperlukan adalah:
1.    Pengamatan (Observasi)
Pengamatan dilakukan secara langsung di Desa Sungai Sintuk terhadap kegiatan yang berhubungan dengan pelakasanaan praktek kerja lapangan guna untuk memperoleh informasi dan pengalaman langsung.
2.    Wawancara
Wawancara dilakukan dengan tanya jawab secara langsung dengan responden di lapangan.
3.    Praktek Kerja Lapangan (PKL)
Kegiatan Praktek Kerja Lapangan  ini merupakan keikutsertaan mahasiswa dalam pelaksanaan aktivitas Petani sehingga mahasiswa memperoleh pengalaman kerja secara langsung dari kegiatan tersebut.
4.    Studi Pustaka
Studi pustaka dilakukan dengan mencari informasi pendukung yang berkaitan dengan kegiatan perusahaan dengan cara memanfaatkan data pustaka yang tersedia misalnya buku, jurnal dan majalah ilmiah.
3.4  Sumber Data
Sumber data yang diperoleh berdasarkan sifat data yang dikumpulkan ada dua jenis data yaitu :
1.    Data primer adalah data yang diperoleh melalui wawancara secara langsung dari responden seperti petani tanaman cabai di Desa Sungai Sintuk.
2.    Data sekunder adalah data yang diperoleh secara tidak langsung dari sumber. Dalam kegiatan Praktek Kerja Lapangan ini yang menjadi data sekunder adalah data yang diambil dari buku, catatan yang diperoleh selama berada di perusahaan dan jurnal yang berhubungan dengan kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL).
3.5 Pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan (PKL)
Tabel 2 Pelaksanaan Praktek kerja Lapangan (PKL)
Minggu-ke
Kegiatan
I
Teknik pengendalian hama terpadu di Desa Sungai Sintuk.
II
Metode metode pengendalian hama terpadu.
III
Jadwal pengendalian hama.
IV
Pelaksanaan pengendalian dan
mengidentifikasi gejala serangan.





DAFTAR PUSTAKA
Padmowiharjo, S. (1996). Evaluasi Penyuluhan Pertanian. Jakarta. Universitas               Terbuka.

Shinkfield, A.J., (1985). Systematic evaluation. Massachuccetts: Kluwer-Nijohoff Publishing.

Stufflebeam,DL (1985). Systematic evaluation.Massachuccetts:  Kluwer-Nijohoff      Publishing.
H.S. Hawkins. 1999. Penyuluhan Pertanian. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Werimon A. (1992) Diktat Monitoring dan Evaluasi APP Yogyakarta (tidak diterbitkan).

Wibowo S. (1995) Dikata Evaluasi Penyuluhan Pertanian APP Yogyakarta (tidak  diterbitkan) Surakarta.

Magdalena E. 2004. Cabai, Buletin Teknopro Hortikultura. Jakarta: Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hortikultura.
Wiyono S. 1999. Sistem Pakar untuk Identifikasi Penyakit Tanaman Cabai Besar Merah (Capsicum annuum L.). Buletin Keteknikan Pertanian Vol 13, No 3, Desember.AFTAR PUSTAKA
Padmowiharjo, S. (1996). Evaluasi Penyuluhan Pertanian. Jakarta. Universitas               Terbuka.

Shinkfield, A.J., (1985). Systematic evaluation. Massachuccetts: Kluwer-Nijohoff Publishing.

Stufflebeam,DL (1985). Systematic evaluation.Massachuccetts:  Kluwer-Nijohoff      Publishing.
H.S. Hawkins. 1999. Penyuluhan Pertanian. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Werimon A. (1992) Diktat Monitoring dan Evaluasi APP Yogyakarta (tidak diterbitkan).

Wibowo S. (1995) Dikata Evaluasi Penyuluhan Pertanian APP Yogyakarta (tidak  diterbitkan) Surakarta.

Magdalena E. 2004. Cabai, Buletin Teknopro Hortikultura. Jakarta: Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hortikultura.

Wiyono S. 1999. Sistem Pakar untuk Identifikasi Penyakit Tanaman Cabai Besar Merah (Capsicum annuum L.). Buletin Keteknikan Pertanian Vol 13, No 3, Desember.